5 Cara Membuat Otak Cerdas Menurut Islam

Cara membuat otak cerdas menurut Islam. Bahasan kita kali ini adalah sesuatu yang sangat menarik karena berkaitan dengan hal yang banyak orang ingin mengetahuinya. Semua orang ingin cerdas. Semua orang juga ingin keturunannya cerdas. Bahkan setiap orang lebih senang berurusan dengan orang yang cerdas. Guru misalnya, dia ingin punya murid yang tidak lemot ketika diajari materi pelajaran. Seorang siswa atau mahasiswa juga senang ketika mendapat guru atau dosen yang pintar dan tidak mbulet ketika mengajarkan sesuatu.

Banyak teori tentang bagaimana bisa meningkatkan kecerdasan seseorang. Khusus dalam Islam kita sudah mengenal bagaimana cerdas dan pintarnya ulama-ulama kita. Bayangkan  seorang Ibnu Hajar Al Asqalani, yang dikenal sebagai Al Hafidz, bisa menghafal ratusan ribu hadist lengkap beserta sanad dan matannya. Selain itu beliau juga hafal Qur’an dan merupakan rujukan ilmu di masanya.

Cara membuat otak cerdas

Sumber : express.co.uk

Selain Ibnu Hajar ada juga Imam Bukhari. Seorang ahli hadis yang namanya sangat familiar karena sering muncul dalam setiap pelajaran hadis. Beliau adalah seorang yang sangat cerdas sehingga bisa dikabarkan bisa menghafal sebuah kitab dengan sekali baca saja. Bahkan beliau diriwayatkan bisa menghafal ribuan hadist hanya dengan mendengarkan saja tanpa harus mencatatnya. Kisah ini dituturkan oleh teman sebayanya yang sama-sama menimba ilmu dari seorang syaikh atau guru hadist.

Temannya yang bernama Hasyid bin Ismâ’îl ini menceritakan, “Dulu Abu ‘Abdillâh, ini merupakan nama panggilan Bukhari remaja, kalau sedang bersama kami berguru pada syaikh di Bashrah. Waktu itu beliau masih muda, dan tidak terlihat mencatat apapun dari apa yang guru mereka sampaikan, sementara teman-temannya semua sibuk mencatat. Hal itu berlangsung beberapa hari. Teman-temannya pun bertanya kepadanya, “Engkau menyertai kami mendengarkan hadits, tanpa mencatatnya. Apa yang kamu perbuat sebenarnya? Mereka menyebut Bukhari hanya menyia-nyiakan waktu saja.

Enam belas hari kemudian, Imam al-Bukhâri rahimahullah akhirnya menjawab, ‘Kalian telah sering bertanya dan mendesakku. Coba tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis’. Maka kami mengeluarkan apa yang kami miliki yang berjumlah lebih dari 15 ribu hadits. Selanjutnya, ia menyebutkan seluruhnya dengan hafalan, sampai akhirnya kami membenahi catatan-catatan kami melalui hafalannya. Kemudian ia berkata, “Apa kalian sangka aku bersama kalian hanya main-main saja dan menyia-nyiakan hari-hariku?!” Maka, kami pun sadar, tidak ada seorang pun yang melebihinya’. Rujukan cerita ini bisa dicari di kitab Bidayah wa Nihayah. Sumber : almanhaj.or.id

Imam Bukhari - Cara membuat otak cerdas menurut Islam

Terdapat juga dalam sejarah Islam kecerdasan seorang ulama yang namanya menjadi nama satu mahzab di antara 4 mahzab yang terkenal. Dialah Imam Syafi’i. Seorang ulama besar yang mahzabnya dipakai secara luas di seluruh dunia khususnya di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Beliau yang ada waktu itu baru berumur belasan tahun sudah mampu menghafal  kitab Al Muwatho’ karangan Imam Malik yang berisi seribuan hadist. Tentu sebelumnya beliau sudah hafal Quran.

Kisah-kisah diatas hanyalah segelintir bukti tentang betapa cerdas dan kuatnya hafalan ulama-ulama zaman dulu. Hal ini tentu dikarenakan selain hidayah dan keutamaan dari Allah untuk mereka, tentu ada juga faktor-faktor bumi yang bisa kita tiru dan teladani.

Beberapa diantaranya adalah :

  1. Adanya niat yang murni dari orang tua

Dalam sebuah hadist disebutkan “Ridho Allah tergnatung kepada ridho kedua orang tua dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua”. Hadist Riwayat Tirmidzi.

Hadist tersebut dengan lugas menjelaskan bahwa keridhoan orang tua itu adalah segala-galanya bagi seorang anak. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan bagaimana agar seorang anak bisa mendapat derajat kecerdasan dan kekuatan hafalan yang diatas rata-rata maka kuncinya adalah : keridhoan orang tua tentang hal itu.

Jadi jika kita berniat untuk menjadikan anak kita anak-anak yang pintar, cerdas, kuat hafalannya maka sudah seharusnya dimulai dari niat kedua orangtuanya dulu. Jika orang tua sudah berniat secara murni dan ini adalah salah satu bukti orang tua ridho kepada anaknya, maka InsyaAllah si anak akan menjadi sesuai yang diinginkan oleh ayah ibu mereka.

  1. Kekompakan dan keteladanan kedua orang tua

Dari kisah Imam Bukhari kecil yang lahir dari kedua orang tua yang  solih dan kompak kita bisa mengambil pelajaran bahwa keberhasilan seorang anak sangat ditentukan oleh keteladanan orang tuanya. Diceritakan dalam sejarah bahwa sejak dalam kandungan, orang tua Imam Bukhari sudah sepakat bahwa anaknya nanti harus menjadi anak yang shalih. Ayah Imam Bukhari sendiri adalah seorang ulama hadist. Jadi jika orang tua ingin anaknya jadi penghafal Qur’an maka seharusnya si orang tua sudah mengkondisikan diri dan lingkungannya agar mendukung tumbuh kembang fisik dan perkembangan intelegensi si anak. Misalnya mencarikan lembaga pendidikan terbaik dan juga guru yang berkompeten dalam mendidik. Disini kekompakan ayah ibu dalam keluarga sangatlah memegang peranan sangat penting dan utama.

  1. Tekad dan semangat yang tinggi dalam belajar

Kecerdasan tidak bisa diperoleh dengan bersantai-santai saja. Walaupun ada juga orang yang nampaknya kurang rajin dan terkesan seenaknya tapi cerdas. Namun secara umum, kecerdasan dan kekuatan hafalan itu harus diusahakan dengan sekuat tenaga. Contoh yang sangat nyata tentang hal ini adalah kisah hidup Imam Syafi’i. Dikisahkan bagaimana beliau sejak kecil sudah dibiasakan bergelut dengan ilmu walau keadaan ekonominya tidak mampu. Sehingga pada usia sangat muda sudah bisa menjadi penghafal Qur’an. Tidak cukup menghafal Qur’an pada usianya yang ke 7 tahun. Imam syafi’I juga berhasil menghafal kitab Al Muwatho’ karangan Imam Malik yang berisi 17ooan hadist. Syafi’I kecil juga dikirim ibunya ke ulama-ulama terkenal untuk menimba ilmu.Bahkan pada usia 15 tahun beliau sudah mendapat ijin untuk berfatwa di kota Mekkah.

  1. Makanan dan minuman harus halal

Imam Syafi’i juga lahir dari seorang ibu yang sangat wara’ dan hati-hati dalam hal makanan. Khususnya mengenai halal dan haramnya suatu makanan. Karena ibu Imam Syafi’i paham bahwa agar anaknya bisa menjadi sebagaimana yang diharapkan, yakni menjadi orang yang cerdas dan sholih maka dia harus menjaga betul apa-apa yang masuk ke perut Imam Syafi’i.

Dikisahkan bahwa Ibu Imam Syafi’I pernah keluar rumah untuk suatu keperluan sedangkan Imam Syafi’I yang waktu itu sedang tidur ditinggal di rumah. Namun ketika ibunya masih diluar Imam Syafi’i kecil itu terbangun dan menangis dengan keras. Tetangga yang mendengar tangisan itu mencoba menenangkannya agar berhenti menangis dengan cara menyusuinya. Ketika ibunya pulang dan mengetahui hal tersebut  maka dia langsung berusaha untuk mengeluarkan susu dari dalam perut Imam Syafii yang  tadi diperoleh dari tetangganya dengan cara memasukkan tangannya ke tenggorokan Imam syafii. Hal ini dia lakukan karena dia khawatir ada unsur-unsur makanan yang tidak halal yang didapat dari tetangganya tadi. Demikian hati-hatinya ibu Imam Syafii akan halal haram makanan yang masuk ke perut putranya sehingga sedemikian ekstrim berusaha mengeluarkan susu asi tetangganya.

  1. Berguru kepada orang yang tepat

Semua ulama yang dicuplik diatas tidak ada satupun yang belajar otodidak alias sendirian. Mereka semua menimba ilmu dari guru-guru dan ulama-ulama terkenal pada masanya. Bahkan seorang ulama ada yang membersamai  gurunya selama 10 tahun untuk bisa menyerap ilmunya.

Kalau di zaman millennial ini, orang tua seyogyanya mencari dan memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan yang terpercaya karena lembaga pendidikan modern tidak seperti dulu yang membolehkan seorang anak membersamai gurunya setiap hari. Maka kedua orangtua harus jeli memilih mana lembaga pendidikan yang paling baik untuk anaknya.

Semoga kita semua dan setiap orang tua dimudahkan dalam mendidik anak sesuai dengan harapannya untuk menjadi anak yang solih dan cerdas menurut tuntunan agama Islam. Cara membuat otak cerdas menurut Islam sudah terbukti berpuluh-puluh tahun yang lalu. Untuk itu menjaga asupan jasmani dan ruhani adalah sesuatu yang sangat penting. Santapan ruhani bisa berupa nasehat dan cerita yang ada dalam Al Qur’an dan bisa juga kisah-kisah bijak dari biografi ulama-ulama dan tokoh-tokoh terkenal. Sementara asupan jasmani berupa makanan dan minuman yang selalu dijaga aspek halam haramnya dan juga asupan tambahan untuk meningkatkan kecerdasan si anak seperti vitamin anak yang banyak membantu orang tua.

Baca juga: 4 Penyebab Anak Tidak mau Makan

Author: Admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *